APP dan mitranya mengancam upaya penyelamatan ekosistem Sumatera dan iklim global Siaran Pers &n... (Continue)

Permasalahan baru yang dihadapi oleh masyarakat Desa Teluk Bano I
Pada tanggal 22 September 2008 bertepatan dengan Pemilihan Gubenur Riau (PILGUBRI) pada Pukul 1... (Continue)
Jakarta (ANTARA News) - LSM lingkungan hidup Greenomics Indonesia menyatakan 61,54 persen perusahaan pemegang HPH (Hak Pengusahaan Hutan) yang beroperasi di Kalimantan masuk dalam kategori berkinerja buruk dan sangat buruk dalam hal pemanfaatan kayu seca... (Continue)
10/09/2008
*Dadan Kuswaraharja* - detikcom
<http://www.detikpor tal.com/index. php?fuseaction= detik.kanal& idkanal=4>
*Oslo*, Tak tahan dengan perlakuan Rio Tinto di Indonesia, perusahaan
investasi milik pemerintah Norwegia menjual selur... (Continue)


LATITUDE
LONGITUDE
DATE
... (Continue)
Konferensi Perubahan Iklim di Bali
Konferensi Usai, AS Tetap Tolak Protokol Kyoto
15 Desember 2007 - 11:30 WIB Kurniawan Tri Yunanto
VHRmedia.com, Nusa Dua - Meski hasil Konferensi Perubahan Iklim sudah bisa diprediksi, kalangan aktiv... (Continue)
www.handsoff.blog.dada.net
DEKLARASI BALI
MENGENAI INSTITUSI KEU... (Continue)
BENCANA ALAM AKIBAT PEMANASAN BUMI
Amsterdam#Amsterdam , Nederland - Jumlah bencana alam pada tahun 2007 naik spektakuler, demikian Palang Merah Internasional. Kalau dibandingkan dengan tahun lalu, maka angka kenaikan 20 persen tercatat sampai ... (Continue)
Rabu, 05 Desember 2007
Kalau Tak di Bumi, Tinggal di Planet Mana?
Dan, menyadari bahwa kita hanya memiliki satu rumah, dan itu adalah Bumi,
kami akan mengundang bangsa-bangsa maju dan berkembang untuk bergabung
bersama kami dalam bertindak sebagai ... (Continue)
Polisi Cegah Jurnalis Liput Demo di Westin
function mxclightup(imageobject, opacity){
if (navigator.appName.indexOf("Netscape")!=-1
&&parseInt(navigator.appVersion)>=5)
... (Continue)
Konferensi Perubahan Iklim di Bali
Masyarakat Adat Melawan Negara Industri
3 Desember 2007 - 13:22 WIB
Kurniawan Tri Yunanto
VHRmedia.com, Nusa Dua - Kelompok masyarakat adat internasional yang hadir dalam Climate Society Forum (CSF) di Bali mengajak masyarakat adat di Indonesia menggalang kekuatan melawan negara industri. Emisi yang diproduksi negara-negara industri telah menenggelamkan pulau-pulau dan merusak ekosistem.
Kyu Eliasara, perwakilan masyarakat adat dari Samoa, mengatakan negaranya yang merupakan kepulauan di Samudera Pasifik selalu terkena dampak perubahan iklim akibat emisi yang dikeluarkan negara-negara industri.
Menurut Kyu, saat ini ketinggian pulau itu hanya 1,83 meter dari permukaan laut. "Samoa sangat rentan. Ada sesuatu yang tidak pernah disebut oleh negara industri, yaitu manusia. Dalam climate change hanya mengedepankan perdagangan (karbon)," tegas Kyu dalam kesaksian masyarakat adat di CSF, Bali (3/12).
Menurut Kyu, pulau-pulau kecil itu juga sering diterjang badai dengan gelombang setinggi 2,8 meter, sedangkan tinggi pulau hanya 1,8 meter. "Artinya, pulau kami sebentar lagi akan habis dan segala populasinya akan punah. Apa ini adil? Padahal kami tidak pernah membuang emisi!"
Dampak perubahan iklim juga sampai Nigeria. Alfred, ketua masyarakat adat Delta Nigeria, menilai dampak perubahan iklim lebih banyak disebabkan oleh manusia yang didukung kebijakan pemerintah militer. "Mekanisme pembangunan yang bersih hanya jargon. Itu sangat membingungkan masyarakat adat," katanya.
Menurut Alfred, sebelum teknologi masuk ke Nigeria, masyarakat adat di Delta sudah bisa mengelola minyak sendiri. Namun sejak rejim militer berkuasa, masyarakat adat tidak punya hak mengelola minyak. "50 tahun lalu, sebelum teknologi masuk, hutan kami belum rusak dan ada pembagian minyak ke masyarakat adat. Sekarang ini tidak bisa."
Umumnya, sebelum menebang pohon, masyarakat adat Nigeria harus melakukan ritual khusus dan menanam pohon lain sebagai pengganti. Namun, ritual itu kemudian dilarang pemerintah yang lebih mengedepankan investasi.
Kondisi serupa terjadi di Meksiko. Belakangan ini beberapa wilayah negara tersebut juga sering diterjang badai dan banjir. Bahkan, banjir yang terjadi juga menenggelamkan kota-kota besar. "Mari kita galang kekuatan untuk melawan negara industri yang selalu mengeluarkan emisi," kata Samanta Felix,wakil masyarakat adat dari Meksiko. (E1)
Foto: Masyarakat adat dari berbagai negara memberikan kesaksian seputar perubahan iklim dalam acara Climate Society Forum.
Konferensi Perubahan Iklim di Bali
'Penjualan' Hutan Matikan Masyarakat Adat
4 Desember 2007 - 12:9 WIB
Kurniawan Tri Yunanto
VHRmedia.com, Nusa Dua - Masyarakat adat menolak kepemilikan hutan oleh pemerintah dan perusahaan industri. Sebab, hutan adalah milik masyarakat adat yang tidak boleh disewakan atau diperjualbelikan.
Ketua masyarakat adat Papua Alex Xanenafa menyatakan, dijual dan disewakannya hutan oleh pemerintah kepada perusahaan-perusahaan menyebabkan masyarakat Papua kehilangan tempat tinggal sekaligus tempat menggantungkan hidup. Jika hal tersebut dibiarkan, tidak lama lagi ras Melanisia (ras masyarakat di Papua dan Australia) akan punah dari muka bumi.
Dia mengungkapkan, luas hutan Indonesia tahun 1950 mencapai 162 juta hektare. Lima tahun kemudian luas hutan berkurang drastis menjadi 98 juta hektare, 41 juta hektare di antaranya merupakan hutan di Papua yang habis dibabat pengusaha kayu pemegang hak pengelolaan hutan. "Berdasarkan penelitian, setidaknya luas hutan kita berkurang 2 hektare setiap tahunnya," kata Alex dalam testimoni masyarakat adat di kampung Civil Society Forum (CSF) di Nusa Dua, Bali, Senin (3/12).
Menurut Alex, masyarakat adat lebih berhak mengelola hutan karena mereka dibesarkan dalam adat tradisional yang lebih mengedepankan kelestarian alam daripada pendidikan yang didapat dari pemerintah yang justru cenderung merusak alam. Selain itu, batas kepemilikan hutan sepenuhnya diatur oleh hukum adat yang lebih arif menjaga kelestarian hutan ketimbang mengekploitasinya. Seluruh hutan Papua dimiliki oleh 7 kelompok masyarakat adat, yaitu Manta, Sairere, Dumberai, Bomberai, Vaanil, Lapago, dan Mapago. "Mari kita akui bahwa hutan adalah milik masyarakat adat," ujarnya.
Muhammad Nur dari kelompok masyarakat adat Sumatera Selatan menyatakan, ratusan hektare hutan di Sumatera Selatan telah dialihfungsikan untuk perkebunan sawit. "Akibatnya masyarakat yang menggantungkan hidup dari hutan kalang-kabut. Tapi yang parah adalah kerusakan hutan itu sendiri," katanya.
Dalam Civil Society Forum ini masyarakat adat nasional bersepakat mencari solusi dan bergabung dengan masyarakat adat internasional untuk melawan negara industri. Sebab, kebijakan yang ditawarkan negara-negara industri justru merugikan masyarakat adat.
Forum masyarakat sipil ini merupakan forum alternatif untuk mengkritisi Konferensi Perubahan Iklim Persatuan Bangsa-Bangsa yang digelar di tempat yang sama mulai Senin (3/12) hingga 14 Desember mendatang. Salah satu poin yang akan disepakati dalam konferensi PBB tersebut adalah aturan hak "sewa" hutan milik negara dunia ketiga oleh negara industri untuk area penyerapan karbon (Carbon Sink). Menurut aturan tersebut, negara industri penyewa hutan berhak mengusir masyarakat adat dari wilayah itu dengan alasan berpotensi merusak hutan. (E1)
©2007 VHRmedia.co

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Rieke Diah Pitaloka
Lelaki kerempeng itu biasa dipanggil Tukijan. Ia pedagang mi ayam keliling yang saban sore mangkal di depan poskamling, tak jauh dari rumah saya. ... (Continue)
Konferensi Perubahan Iklim di Bali
Perubahan Iklim Miskinkan Masyarakat
4 Desember 2007 - 14:21 WIB Kurniawan Tri Yunanto
VHRmedia.com, Nusa Dua - Diperlukan gerakan sipil untuk menekan para pembuat kebijakan terkait isu lingkungan. S... (Continue)
Kejar Target Pembangunan=Pelanggaran Hak atas Warga untuk Hidup Selamat
Action Global, 
8 Desember 2007
Pemanasan global (baca; perubahan iklim) sudah menjadi isu global, maka penanganannya harus ditangani secara global/ bersama-sama pula den... (Continue)
ILEGAL LOGGING, PHK MASSAL DAN TANGGUNG JAWAB NEGARA
Oleh: Engkos [1]
[1] Penulis adalah anggota Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia!
(KASBI) Bandung Raya, sekaligus anggota Forum Bela! jar Bers ama
Prakarsa Rakyat dari Simpul Bandung.
Is... (Continue)
28/abm karawang /IX/2007 PERNYATAAN SOLIDARITAS UNTUK SDR. GEBOT LASRO SAGALA 1. (Continue)
DAUR KARBON
Siklus karbon adalah siklus biogeokimia dimana karbon dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer Bumi. Dalam siklus ini terdapat empat reservoir karbon utama yang dihubungkan oleh jalur pertukaran. R... (Continue)

Skandal di Bumi Riau
Indah Kiat Pulp and Paper
Sejak beroperasi, Indah Kiat Pulp and Paper telah menyerap 300 ribu pekerja langsung dan 500 ribu pekerja tidak langsung (perusahaan pemasok dan katering). Setiap tahun, Indah Kiat mengekspor pulp US$ 3 miliar dengan kapasitas produksi 2,2 juta ton per tahun.
Kasus:
- Pada pertengahan Juli lalu, Kepolisian Daerah Riau menyita satu juta meter kubik kayu yang diduga merupakan hasil penebangan liar dari Kabupaten Indragiri Hilir bernilai Rp 1 triliun. Kayu itu berada dalam kawasan hutan tanaman industri PT Bina Duta Laksana, di hilir Sungai Gaung, Gaunganakserka.
- Indah Kiat Pulp and Paper mengakui PT Bina Duta Laksana memiliki kerja sama operasi dengan PT Arara Abadi yang merupakan bagian dari kelompok usaha PT Indah Kiat. Manajemen Indah Kiat menolak tudingan pabriknya menerima kayu ilegal hasil pembalakan liar.
Polda Riau melimpahkan sejumlah kasus pembalakan liar ke Kejaksaan Tinggi Riau, akhir Agustus lalu. Tersangka kasus itu, dua mantan Kepala Dinas Kehutanan Riau, dan petinggi PT Arara Abadi (anak perusahaan PT Indah Kiat Pulp and Paper).
Luas HTI yang dikuasai:
Konsesi lahan 120 ribu hektare, sebagian besar di Riau.
Riau Andalan Pulp and Paper
Perusahaan ini menyatakan mempekerjakan sedikitnya 200 ribu orang, langsung maupun tidak langsung. Riau Andalan mengekspor pulp senilai US$ 2 miliar dengan kapasitas produksi 2 juta ton pulp per tahun. Selain menguasai ratusan ribu hektare hutan, PT Riau Andalan juga membina 61 perkebunan milik kelompok petani dengan luas total 23 ribu hektare.
Kasus:
Bermula dari tindakan Kepolisian Sektor Pelalawan menahan 25 truk yang mengangkut 1.300 batang kayu di jalur lintas timur Pangkalan Kerinci, Pelalawan. Tidak satu pun dokumen yang menyertai kayu itu. Hasil hutan ini diduga hasil jarahan dari lahan gambut Semenanjung Kampar dan akan dikirim ke PT Riau Andalan Pulp and Paper.
Tersangka:
Pada Agustus lalu polisi baru memeriksa mantan Kepala Dinas Kehutanan Riau, Fauzi Saleh. Dia diperiksa sebagai saksi kasus penerbitan rencana kerja tahunan kehutanan pada 2002 untuk PT Nusa Prima Manunggal, anak perusahaan Riau Andalan Pulp and Paper. Sejumlah staf PT Madu Koro (pemilik 1.300 batang kayu yang disita polisi) juga masih diperiksa sampai sekarang.
Luas HTI yang dikuasai:
- Riau Andalan menguasai 330 ribu hektare hutan sampai 35 tahun mendatang. Perusahaan ini mengklaim telah menanam hutan tanaman industri 35-40 ribu hektare per tahun. Hingga akhir 2006, Riau Andalan sudah menanam 268.917 hektare hutan tanaman industri.
- Pada Januari 2006, Riau Andalan Pulp and Paper mengumumkan akan memperluas areal hutan tanaman industri yang dikuasainya, untuk menjamin pasokan bahan baku 9 juta meter kubik per tahun. Ditargetkan, pertambahan luas HTI Riau Andalan adalah 60 ribu hektare per tahun, sehingga pada 2009 luas totalnya menjadi lebih dari 460 ribu hektare.

Kumpulan berita tentang gugatan
Suharto lawan majalah Time
Berita tentang dimenangkannya gugatan Suharto terhadap majalah Time dengan
putusan oleh Makamah Agung bahwa majalah tersebut harus membayar 1 triliun
Rupiah (artinya 1000 miliar Rupiah) kare... (Continue)
Situs lelang Online eBay adalah situs lelang online yang paling
bergengsi; dimana orang-orang di seluruh dunia bisa membeli dan
menjual apa saja disitu. Sebelumnya anda bisa menawarkan barang
disitu, akan diteliti dengan ketat terlebih dahulu jenis ba... (Continue)
PRESS RELEASE
SIARAN PERS
Untuk siaran segera – 26 Juni 2007
Siaran pers bersama oleh EcoNexus, Biofuelwatch, Corporate Europe Observatory
Kelompok-kelompok dari seluruh dunia menyerukan moratorium insentif Uni Eropa bagi bahan bakar ... (Continue)
KEPUTUSAN FATWA MUI WILAYAH IV KALIMANTAN, Tentang PEMBAKARAN HUTAN DAN KABUT ASAP
18 Sep 2007
dari Situs Dephut :
------------ -----
IJTIMA' KOMISI-KOMISI FATWA MUI WILAYAH IV
KALIMANTAN DI BANJARMASIN
KEPUTUSAN FATWA MUI WILAYAH IV KALIMANTAN
No: 128/MUI-KS/XII/ 2006
Tentang
PEMBAKARAN HUTAN DAN KABUT ASAP
ljtima' Komisi-Komisi Fatwa Majel... (Continue)
DEKLARASI RIAU “ANTI KEJAHATAN KEHUTANAN” Berkenaan dengan perkembangan proses penegakan hukum atas tindak kejahatan kehutanan di Riau yang makin jauh dari titik fokusnya, maka dengan ini kami menyatakan : 1.  ... (Continue)
Indonesia Rawan Bencana
Secara histografi, Indonesia merupakan wilayah langganan gempa bumi dan tsunami. Pasca meletusnya Gunung Krakatau yang menimbulkan tsunami besar di tahun 1883, setidaknya telah terjadi 17 bencana tsunami besar di Indonesia sel... (Continue)
Noda Sang Industri Raksasa
Indonesia merupakan salah satu produsen pulp dan kertas besar di dunia. Biaya produksi pulp serat pendek Indonesia adalah yang terendah di dunia: hanya US$ 186 per ton. Pohon akasia yang jadi bahan baku pulp di Ind... (Continue)
Apa itu Pemanasan Global?
(Dari Wikipedia Indonesia)
Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata
atmosfer, laut dan daratan Bumi . Planet Bumi telah menghangat (dan
juga mendingin) berkali-kali selama 4,65 milyar tahun sejarahny... (Continue)
Dengan Menghancurkan Sumberdaya (Khususnya Riau) dapat menjadi orang terkaya di indonesia lho...
Berikut ini adalah Daftar 40 orang terkaya di Indonesia menurut majalah Forbes pada bulan Juli 2006
Nomor Urut
... (Continue)
Tahun 2040 : 2.000 pulau tenggelam
Mungkin Anda menduga, udara yang akhir-akhir ini makin panas, bukanlah
suatu masalah yang perlu kita risaukan.
Mana mungkin sih tindakan satu-dua makhluk hidup di jagat semesta
bisa mengganggu kondisi planet bumi ya... (Continue)





Latest comments
@*dtcomment*@@*titolopost*@
@*nome*@