Hello, I am camerade
See my profile


Tag

Syndicate content

Add to My Dada

Add to My Dada

Share your contents

De.licio.us

Perusahaan Global Mesin ATM Junta Militer

06 Oct 2007

Perusahaan Global Mesin ATM Junta Militer PDF Cetak E-mail
Selasa, 02 Oktober 2007
Imbalannya Keruk Kekayaan Bumi Myanmar
JAKARTA (BP)
- SIKAP keras kepala rezim militer Myanmar terhadap kecaman dunia internasional ternyata ada sebabnya. Sejumlah perusahaan multinasional terbukti selalu siap mengalirkan miliaran dolar AS ke kantong penguasa tanpa peduli apa yang mereka lakukan terhadap rakyatnya. Sebagai imbalan, perusahaan global itu mendapat izin mengeruk bumi Myanmar yang kaya hasil tambang.
Beberapa perusahaan raksasa itu berasal dari negara yang selama ini mengecam paling keras pemerintahan diktator junta militer. Perusahaan yang setorannya paling besar ke pemerintah Myanmar adalah perusahaan energi asal AS, Chevron, dan perusahaan tambang asal Prancis, Total. Di belakang mereka adalah perusahaan minyak asal China, China National Petroleum.

Semua perusahaan itu berbagi keuntungan dengan rezim. ’’Perusahaan-perusaha an itu tidak peduli terhadap pelanggaran hak asasi manusia dan apa yang tengah terjadi di Yangon,” ungkap Koordinator ASEAN Alternative Network Debbie Stothard.

Terkuaknya Chevron dan Total sebagai ’’mesin ATM” junta militer cukup menyedihkan. Sebab, baru saja kepala negara AS dan Prancis mengeluarkan kecaman keras terhadap pembantaian oleh junta militer terhadap para biksu dan aktivis prodemokrasi.

Presiden AS George W Bush minggu lalu mengajak seluruh dunia sepakat menerapkan sanksi baru kepada pemerintah Myanmar saat berpidato di Majelis Umum PBB. Hal yang sama dilakukan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy dengan menyerukan para pebisnis Prancis membekukan investasi mereka di salah satu negara termiskin di Asia Tengara itu.

Total memegang 31 persen saham di Proyek Yadana, yang menyalurkan gas dari lapangan ke Laut Andaman sebagai tenaga industri di Thailand. Proyek itu merupakan kerja sama antara Myanmar Oil dan Gas Enterprise, perusahaan eksplorasi minyak Thailand, dan perusahaan Unocal milik AS yang dibawa Chevron. Perusahaan AS itu memiliki 28 persen saham di lapangan Yadana.

Selain Total dan Chevron, perusahaan multinasional seperti Nippon Oil Corp asal Jepang, Daewoo International asal Korea Selatan, dan Petronas Malaysia memiliki kontrak miliaran USD di Myanmar. “Kami melihat situasi politik dan masalah energi adalah dua hal berbeda,” ujar juru bicara sebuah perusahaan multinasional. Juru bicara Daewoo mengatakan, jika Korea Selatan memutuskan memberi sanksi terhadap Myanmar, perusahaan akan menentangnya.

Tidak hanya gas alam dan minyak yang membuat Myanmar diincar investor asing. Hasil hutan Myanmar juga termasuk komoditas yang laku di pasar global. ’’China dan Thailand adalah pembeli jati dan batu permata terbesar dari Myanmar, Mereka hanya tertarik berbisnis dalam jangka pendek, tidak peduli terhadap kehidupan masyarakat Burma,” ujar seorang analis bisnis Myanmar Aung Thu Nyein. (afp/jpnn)
 


Comment




(Enter your blog or personal web-site url)

Enter the text that you see in the box

(This is to prevent spam)